SANGKAKALA: New Wave Of Bantul Heavy Metal

Retrospeksi dan hal-hal jadul memang selalu seru untuk dinikmati terlebih di ranah musik dan fashion. Bagi penggemar musik, hal ini dibawah sadar akan menggandrunginya. Terutama bagi penggemar musik yang mulai menelusuri jejak band masa kini yang sedang digemarinya. Fans Oasis bisa menyelam hingga Koes Plus. Begitu juga fans High On Fire mungkin bisa terjerembab ke denting piano Changes-nya Black Sabbath yang emo.
Pada awal abad 21 ini yaitu sekitar tahun 2003, Jogja dilanda kebangkitan heavy metal, hard rock, speed metal, hair metal bahkan hingga progresive rock yang pernah berjaya di era 80-an. Semua menjadi serba 80-an. Yang suka disko dijangkiti new wave, yang suka indie-pop demam post-punk, yang suka indie-rock dan grunge menelusuri proto-punk dan krautrock, yang suka punk pun turut terbius oleh Motley Crue atau Twisted Sisters dan yang suka metalcore menggelepar bersama thrash metal. Yang nggak suka apa-apa jadi ikut-ikutan. Namun yang menarik adalah kondisi sebelumnya tidak hilang begitu saja, malah beberapa mampu menciptakan ramuan yang crossover.


Sangkakala lahir di kampus seni yang bercokol di kabupaten Bantul pada tahun 2004 di saat gemuruh heavy metal dan saudara-saudaranya sedang merajalela. Di era inilah muncul gig yang bertajuk Rock Siang Bolong yang cukup mewadahi lahirnya band-band metal 80-an seperti Saseni Bujang dan Sangkakala. Namun skala wabah ini cukup kecil.
Sangkakala adalah sekelompok mahasiswa seni rupa Bantul yang sangat menggemari band-band heavy metal dan hard rock dari Jawa Timur seperti Power Metal, Kamikaze, Red Spider, Brigade Metal serta produk-produk binaan Loggiss Records lainnya dan beriringan dengan Manowar, Iron Maiden, Twisted Sisters, Quiet Riot. Namun, astuti (baca: attitude) dan skill mereka yang nge-punk menjadikan musik yang mereka ciptakan dan mainkan berbeda dengan band idolanya. Di satu sisi mereka memperbaiki tatanan lirik lagu band idolanya yang dianggap moralis menjadi lebih urakan dan ceplas-ceplos, tapi di sisi yang lain mereka menurunkan derajat musik metal menjadi kasar. Penampilan diatas panggung dijadikan sebuah fashion show lengkap dengan pesta kembang api. Seperti halnya band-band retro pada umumnya, mereka juga menyajikan ungkapan, gaya dan perilaku yang pernah terjadi di tahun 80-an namun kadangkala diimbuhi penekanan ironisme seperti teriakan “Assalamualaikum…” di intro lagu atau poster band bertorehkan tanda tangan personil.

Pada perhelatan Jogja Biennale X kemarin, mereka menggelar Macanista Art Project yang meliputi beberapa workshop seperti hairstyling, custom costume, fans attribute (poster, flyer, banner) dan diakhiri dengan konser tunggal. Hasil rekaman konser tunggal ini akan segera dirilis di Yes No Wave Music.
“HENTAKKAN KAKIMU, KIBASKAN RAMBUTMU DAN TERIAKKAN SALAAAM TIGA JARIII!”
Lebih lanjut silahkan kunjungi rocker-rocker kota kabupaten ini di:
Facebook
MySpace
Macanista Blog





























February 1st, 2010 at 1:24 pm
sangakakala seru….
February 1st, 2010 at 6:11 pm
ah sial! jadi penasaran! kapan nih keluarin album? lewat yesnowave gitu?
February 3rd, 2010 at 10:58 am
MUANTEP!!!!
February 4th, 2010 at 8:51 am
Djogja emang mangstabs dab!!
February 4th, 2010 at 1:01 pm
nahh yang begini nih yang langka
February 15th, 2010 at 9:23 am
sokil gob !
February 22nd, 2010 at 10:26 am
super kerenn !!!