WHATNOT BLOGROLL

WOK THE ROCK

This one of the Yes No Wave Music founder is a headbanger. Lives and works in Yogyakarta, ID. He bangs many heads, from visual art, music, web/graphic design, girls to beer and marijuana. He loves bikini, photography and rock n’ roll. Don’t hesitate to join him for a gang bang show.

Advertisement

Nollywood by Pieter Hugo

Thursday, 02 July 2009
nollywoodchris.jpg

Nollywood is said to be the third largest film industry in the world, releasing onto the home video market approximately 1 000 movies each year.

Such abundance is possible since films are realized in conditions that would make most of the western independent directors cringe. Movies are produced and marketed in the space of a week: low cost equipment, very basic scripts, actors cast the day of the shooting, “real life” locations. Despite the improvised production process, they continue to fascinate audiences.

In Africa, Nollywood movies are a rare instance of self-representation in the mass media.

The continent has a rich tradition of story-telling that has been expressed abundantly through oral and written fiction, but has never been conveyed through the mass media before.

Movies tell stories that appeal to and reflect the lives of its public: stars are local actors; plots confront the viewer with familiar situations of romance, comedy, witchcraft, bribery, prostitution. The narrative is overdramatic, deprived of happy endings, tragic. The aesthetic is loud, violent, excessive; nothing is said, everything is shouted.

In his travels through West Africa, Hugo has been intrigued by this distinct style in constructing a fictional world where everyday and unreal elements intertwine.

By asking a team of actors and assistants to recreate Nollywood myths and symbols as if they were on movie sets, Hugo initiated the creation of a verisimilar reality.

His vision of the film industry’s interpretation of the world results in a gallery of hallucinatory and unsettling images.

The tableaux of the series depict situations clearly surreal but that could be real on a set; furthermore, they are rooted in the local symbolic imaginary. The boundaries between documentary and fiction become very fluid, and we are left wondering whether our perceptions of the real world are indeed real.

Words by Federica Angelucci


nollywoodzuo.jpg

nollywoodomo.jpg

nollywoodmalachy.jpg

nollywoodescort.jpg

nollywoodobech.jpg
For more images please click here.

Megazine #2: COLORS 58

Wednesday, 01 July 2009

JACKO WAS A KING

Friday, 26 June 2009

Megazine #1: % Magazine

Tuesday, 23 June 2009

Mulai hari ini, blogroll saya memiliki satu kategori khusus yang mengajak anak muda seantero jagad raya untuk gemar membaca di depan layar monitor. Media informasi yang ditampilkan disini akan lebih banyak memuat majalah dan selebihnya adalah koran, bulettin, katalog dan media bacaan lainnya. kategori ini saya namai Megazine. Untuk edisi perdana ini saya tampilkan sebuah zine milik saya sendiri yang bernama % Magazine. Akhir kata, selamat membaca!

THEY NEED MORE FANS, WE NEED MORE STAGES!

Tuesday, 23 June 2009

We Need More Stages adalah sebuah arsip foto, video, poster, audio dan pernak-pernik pesta pertunjukan musik di Indonesia. Terbuka bagi siapa saja untuk turut berpartisipasi di situs ini. Arsip musik ini tidak membatasi skala pertunjukan (mainstream maupun underground), namun lebih diprioritaskan pada bentuk event yang dikelola secara mandiri dan unik seperti misalnya sebuah acara sunatan masal yang diiringi oleh penampilan dari band horror-punk atau pesta-pesta privat yang diadakan oleh anggota pesantren. Proyek pengarsipan ini bertujuan untuk mendokumentasikan kegiatan budaya populer di Indonesia yang nantinya bisa menjadi bagian artefak sejarah yang berguna bagi masyarakat luas.

Seluruh materi arsip menggunakan lisensi Creative Commons yang mana siapapun diperbolehkan untuk menggunakannya untuk koleksi pribadi/kelompok, bahan riset/penelitian atau materi publikasi yang bersifat non-komersial dan dengan mencantumkan nama pemilik arsip atau We Need More Stages.

We Need More Stages terbuka bagi siapa saja untuk turut berpartisipasi. Bagi anda fotografer, videomaker, desainer grafis, bands/musisi, label rekaman yang ingin menyumbang koleksinya silahkan bergabung dengan menjadi kontributor materi (keterangan lebih lanjut silahkan buka halaman Aturan Main). Kami juga terbuka untuk kerjasama dengan event-organizer dan lembaga apa saja yang mengelola sebuah pertunjukan musik.

WE NEED MORE STAGES!

Disokong oleh Yes No Wave Music dan Ruang MES 56

foto oleh Agan Harahap

BOOTS PARTY

Wednesday, 10 June 2009

Boots Party adalah seri karya seni keramik yg dibuat oleh seorang seniman muda bernama Purnomo yang oleh teman-teman seperguruannya dipanggil dengan nama Jurasic Pur. Saya sendiri lebih suka memanggilnya Pur No More biar terlihat lebih keren daripada tampangnya yang seperti umumnya mahasiswa ISI: lusuh dan kelabu. Pur adalah penggemar musik streetpunk yang suka nongkrong di trotoar bareng anak-anak punk dan skinhead di sudut-sudut kota pelajar. Demi pengabdiannya pada genre musik dan kultur impor yang digemarinya ini, diciptakannyalah sebuah seri boots Doc Marten dengan medium keramik. Berikut ini tulisan pengantar saya untuk pameran sendirinya ini:

BOOTS PARTY
Pameran Seni Rupa oleh Pur No More
Senin, 27 April 2009
Via-Via Cafe Yogyakarta

Dimeriahkan oleh:
Sangkakala
The Gembel’s (Cock Sparrer cover band)

Doc Mart, DM, Doc Marten ato Dr. Marten yang saya kenal pertama kali adalah merk sepatu boot yang digunakan oleh musisi-musisi dari kota Seattle di awal tahun 90-an yang ironisnya saat saya justru getol dengan musik yang dikumandangkan oleh Entombed, Sepultura, Morbid Angel, Napalm Death, Kreator, Bulldozer, Sodom, Disharmonic Orchestra dan band-band pengusung disharmonisasi heavy metal dan rock n’ roll. Sebagai penggemar musik rock teladan kelas kota kabupaten, model sepatu ini pertama kali saya lihat di video klip Pearl Jam berjudul “Alive” saat saya meminjam kaset video serial Lion Maru untuk berpuluh-puluh kalinya di sebuah persewaan video di kota saya. Saat itu, sebagai metalhead sejati, saya tidak puas melihat segerombolan pemuda gondrong berdandan seadannya dan memainkan musik metal yang kental dengan warna hard-rock. Gejolak jiwa saya hanya justru terpaku pada alas kaki yang digunakan oleh gerombolan pemuda gondrong di video klip tersebut. Selain musiknya yang tidak ’semestinya’, mereka menggunakan sepatu boot yang berbeda dangan yang biasa saya lihat dalam poster-poster dan pose-pose foto dari band metal/rock yang biasa saya pancang diam-diam di tembok kamar saya pada umumnya.

Pada saat itu juga, jenis sepatu ini dengan mudahnya merubah selera saya akan segala hal. Mulai dari jenis musik yang didengarkan dan dimainkan, cara berdandan hingga harapan akan citra akan tampil beda. Melajulah saya menuju kota Yogyakarta yang saya yakini bahwa kota besar adalah kota yang mengadopsi budaya barat dengan sigap. Dengan uang sebesar Rp. 15.000 tanpa tawar-menawar yang sengit saya dapatkan sepasang sepatu boot ‘Pearl Jam’ palsu diantara deretan boot serupa sepanjang jalan Malioboro. Saya pun jadi anak band paling mutakhir di kota kabupaten saat itu. Saya merasa lebih hebat didepan teman saya anak-anak Thrash Metal yang menggunakan sepatu Nike Air yang notabene ga becus main basket dan skateboard. Dengan Doc Mart palsu di kaki, ketidakmampuan saya melakukan tekhnik shredding dan hand-tapping pada gitar elektrik saya alihkan pada kocokan senar seadanya dan eksploitasi knob-knob efek gitar Metalizer. Kim Gordon dengan Doc Mart nya adalah cewek super yang paling menawan.

Lima tahun kemudian, setelah saya kuliah, tinggal dan bergaul dengan anak-anak punk di Yogyakarta, saya mulai mengenal secara historis tentang keperkasaan sepatu Dr. Martens. Saya mulai sadar bahwa keberadaan sepatu ini lebih dari sekedar sebuah fashion semata, sebuah citra sosial bahkan politik. Berbeda dengan kultur ‘grunge’ yang saya yakini sebelumnya, punk memberikan nilai lebih pada jenis sepatu ini. Anehnya, jenis sepatu boot palsu di Malioboro saat itu malah lenyap. Akibatnya, anak-anak punk ‘terpaksa’ menggunakan boot ‘ABRI’ yang jelek mirip kulit jeruk. Beberapa anak berusaha memesan pada pengrajin sepatu guna memiliki model yang mirip Dr. Martens. Bagi yang beruntung bisa mendapatkan boot Doc Mart ori dengan harga murah di pasar gelap. Singkat kata, keinginan untuk memiliki Doc Mart adalah satu hal yang sempurna. Jenis sepatu ini digunakan oleh berbagai kalangan, dimana saja, kapan saja dan di tingkat sosial apa saja.

Saya teringat akan sebuah video dokumentasi live performance dari Morissey. Pada video yang saya tonton bersama beberapa teman yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda, Morissey (di Indonesia mewakili scene pop) sedang menyusuri jalanan kota dengan boots Doc Mart yang ujung cerita menorehkan sebuah kalimat melalui tabung catnya di sebuah tembok gedung pemerintah bertuliskan “Angelic Upstarts” yang notabene adalah sebuah nama band punk jalanan yang saat itu sangat kontroversial atas kritik mereka atas kebijakan sosial dari kabinet ‘Tory’ yang dipimpin oleh Margaret Tatcher. Hal ini yang dikemudian hari menghapuskan sekat antar kelompok/komunitas musik di kota pelajar ini.

Boots adalah identitas dan Dr. Martens adalah aktualisasi impian. Sneaker? Sneaker is just a shoe. Boots is a spirit. It’s not a shoe. ;-p

8 by you.

7 by you.

6 by you.

4 by you.

2 by you.

Rekaman Gambar Hang The DJ: Burn Your Idol

Wednesday, 10 June 2009

Hang The DJ adalah sebuah event tahunan di kota pelajar yang digelar oleh Discodancerproject -klub yang dikelola oleh beberapa personel dari Blossom Records, Indiepop Raising Club, Kongsi Jahat Syndicate dan oponen2 lainnya. Event ini menggelar deretan DJ yang memainkan lagu-lagu diluar genre elektronik populer.

Pada volume keempat ini, Hang The DJ bekerjasama dengan Wok The Rock meramunya menjadi sebuah ajang sosialisasi proyek seni Burn Your Idol yang mengumpulkan 1000 CD-R album-album favorit anak muda di Indonesia. Pada kesempatan ini para DJ memainkan beberapa koleksi CD-R dari Burn Your Idol dan koleksi mereka pribadi. Event kali ini digelar 2 sesi. Sesi pertama dilangsungkan disebuah vila di kawasan Kaliurang dan sesi pertama berlokasi di koridor Slackers.

HANG THE DJ VOL. 4: BURN YOUR IDOL!

Thursday, 04 June 2009

UNTUK INFO LEBIH LANJUT DAN PARTISIPASI SILAHKAN KUNJUNGI
WWW.BURNYOURIDOL.COM

MUSIK BULAN MEI DI YOGYAKARTA

Tuesday, 19 May 2009

Rekaman Gambar Tora! Tora! Agresi #1: Melumat Identitas

Sunday, 10 May 2009

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
BLOGROLL
Latest Blogroll Post
Whatnot TV
WHATNOT FM
Have A Nice Day
HAVE A NICE DAY?
Advertisement
Advertisement
Advertisement