WHATNOT BLOGROLL

APARATMATI

…is both underrated and overrated. Whatever. Listens a lot to Motorhead, collect vinyls, draw skulls, silkscreen his own t-shirts and drinks a lot of beer. He’s probably the first local contingent for OctoberFest. Now, he is saving money to build a custom bike. Fukk yeah.

Tetap Intens Setelah 20 Tahun Lebih: Album Reign In Blood karya Slayer

Wednesday, 29 April 2009

slayer-reign in blood

Adalah tahun 2009, ketika saya kembali memutar album Reign In Blood dari band metal Slayer, feeling yang sama ketika saya pertama mendengarkan album ini di tahun 1987 masih tetap sama: seperti ditampar berkali-kali, seperti menjelaskan bagaimana seharusnya musik heavy metal yang intens dimainkan. Ya, ‘intens’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Reign In Blood.

Pertengahan 1980an, saya masih mencoba belajar main skateboard di Bandung bersama teman-teman sekolah menengah pertama, dan juga baru mulai mendengarkan heavy metal. Awal ketertarikannya pertama dari covernya yang cukup komikal, seperti melihat sebuah poster film horror. Band-band seperti Iron Maiden, Judas Priest menjadi awal ketertarikan saya kepada musik heavy metal, dan sepertinya rasa haus ingin mendapatkan musik yang lebih ekstrim dan lebih ekstrim semakin membesar. Era musik thrash metal baru milai, dan saya juga menikmati sub genre ini. Era ini juga tidak mudah mendapatkan rilisan-rilisan thrash metal, jadi biasanya saya dan kawan-kawan fans heavy metal mendapatkan rekaman-rekaman kaset saja, kadang berupa demo, kadang berupa kopian dari album original dan import milik seseorang yang beruntung mendapatkan dari liburan di luar negeri atau menitip kepada seorang saudara yang di luar sana. Metallica, Megadeth, Testament, Forbidden, Sacred Reich, dan banyak lagi.

Suatu waktu seorang teman memberikan sebuah rekaman kaset Reign In Blood. Sebelumnya, saya sudah mendengarkan album Slayer Show No Mercy dan Live Undead, saya kira musiknya cukup senada dengan band-band thrash metal lainnya. Tapi saat saya memutar kaset Reign In Blood, I was blown away from the first riffs. Berdurasi hanya 28 menit saja, cukup singkat untuk rata-rata durasi album heavy metal. Saya punya tolak ukur unik: ketika memutar sebuah album heavy metal dalam volume maksimal, semakin cepat ibu saya menyuruh saya memelankan suara yang keluar dari speaker, artinya album heavy metal tersebut semakin baik. Begitu pula dengan Reign In Blood. Hanya beberapa detik setelah lagu pertama diputar, “Angel Of Death”, ibu saya berteriak agar volume dikecilkan. Good. Album rekaman ini saya putar berulang kali hingga kaset rekamannya mendem. Merekam ulang dari teman, dan memutarnya lagi hingga tidak dapat diputar.

Akhirnya saya mendapatkan kaset importnya setelah memesan dari seorang relasi, dan artwork karya Larry Carroll ini tidak komikal seperti album heavy metal lainnya. Album rilisan tahun 1985 ini memiliki artwork yang dark, dan tentu saja berkesan satanic: sosok seperti manusia berkepala kambing, yang sedang diusung sosok-sosok seperti manusia dengan simbolisasi, di lautan merah seperti darah. Sebuah lukisan surreal yang digarap serius dan jauh dari komikal. Seperti membuat statement, “We are fucking dead serious.”. Wah. Sebuah artwork yang membuat bulu kuduk berdiri tapi seperti menonton film horror, kalau memang takut sebenarnya tinggal dimatikan saja, tapi tidak. Produser Rick Rubin [Beastie Boys, Red Hot Chili Peppers, Metallica, etc.] memang seperti Midas, apa yang disentuh menjadi emas, dan dalam hal ini, memproduseri Reign In Blood memaksimalkan Slayer.

Begitu pula dengan musiknya. Aransemen lagu yang seperti tidak mengenal istirahat, dan dilengkapi olah lengkingan-lengkingan solo gitar yang chaotic disebar di tiap lagu. Gitaris Kerry King dan Jeff Hanneman berbicara dengan instrumennya, sementara Dave Lombardo sang drummer menghajar tiap bagian instrumen drum seperti tidak ada hari esok. Tom Araya sang bassis dan vokalis, memuntahkan lirik bagai senapan mesin tanpa kehilangan artikulasi. Dan tentu saja lengkingan vokal yang membuka di ”Angel Of Death” adalah klasik dan gahar. Evil. Bahkan lagu terakhir, ”Raining Blood”, memiliki intro dengan drum signature yang menjadikannya klasik, padahal sangat sederhana.
Saya berani bilang silahkan ambil beberapa album heavy metal 5 tahun ke belakang, bandingkan dengan Reign In Blood, tidak ada yang dapat menyamai intensitas Reign In Blood.

Bicara tentang liriknya, yang pada masa itu ekstrim: “Angel Of Death” bercerita tentang korban-korban kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau, Polandia, yang dibantai secara mengerikan oleh Dr. Josef Mengele, perwira dan psikiater Nazi. Lagu ini juga menuai protes karena seperti meng-glorify kematian, dan tragedi di kamp konsentrasi tersebut. Tapi bagi saya, lirik ini justru membuat saya mencari tahu tentang sejarah yang terjadi di Auschwitz, Perang Dunia II, dan segala hal yang terkait. Dibandingkan dengan pelajaran sejarah di sekolah, Slayer lebih menarik menjadi guru sejarah bagi saya. Tidak berbeda dengan tema lirik lain seperti “Piece By Piece”, “Necrophobic”, “Criminally Insane”. Tentang sociopath/psikopat atau juga orang-orang dengan kecenderungan sakit jiwa, yang membuat saya tertarik dengan cerita, latar belakang mereka, entah orang-orang dengan kecenderungan di luar norma atau juga para serial killers. Slayer makes me read a lot. Atau, lirik-lirik anti-religi seperti pada lagu “Jesus Saves”, semasa sekolah menengah kadang membuat saya mendengarkannya dengan jantung berdegup, karena temanya pada saat itu ekstrim. Membutuhkan beberapa tahun untuk mengerti akan kemarahan mereka terhadap religi pada umumnya, tapi juga membuat pikiran saya lebih terbuka dengan berbagai macam pandangan, khususnya tentang agama.

Reign In Blood menjadi salah satu soundtrack bagi hidup saya, if anything goes wrong, saya tinggal memasang album ini dan merasa lebih baik. Mungkin memang tidak menjadi jawaban untuk suatu permasalahan yang ada, tapi dengan album ini setelah mendengarkannya, saya bisa berpikir lebih jernih. Seperti melepaskan agresi dengan positif, kemudian mampu berpikir jernih untuk menyelesaikan permasalahan itu.
Segi negatifnya, kalau ada, mungkin adalah lelucon yang saya gunakan semasa sekolah menengah pertama: menyiapkan stereo set dekat telefon, membuka buku telefon dan mencari nama-nama orang yang kami anggap bodoh. Saya menyiapkan lagu “Angel Of Death”, dan ketika orang di ujung sana mengangkat telefon, lagu “Angel Of Death” meledak. Atau, secara acak memilih nomor telefon rumah seorang teman, begitu diangkat kami akan menjerit melengking seperti apa yang dilakukan Tom Araya. Biasanya, saya dan beberapa kawan selalu terpingkal-pingkal setelahnya.
Tentu saja, medengarkan Reign In Blood sebelum ke konser rock atau heavy metal manapun juga adalah wajib. Lebih seru lagi kalau di dalam mobil, berbekal beer dingin, dan juga dipasang dalam volume keras. Heavy metal parking lot dengan soundtrack Slayer adalah terbaik. It gets you pumped up.
Bahkan dalam relationship, Reign In Blood menjadi patokan saya. Sang gadis tidak harus menyukai Slayer, tapi at least bisa mengapresiasi musik intens yang ditawarkan dalam Reign In Blood.

Dalam bermain musik pun, ketika menciptakan lagu, Reign In Blood menjadi inspirasi. Misalnya dalam sebuah aransemen lagu, kami akan berdiskusi,

”Kita membutuhkan part seperti Slayer disini atau disini.”
“Sepakat. intro lagu kita perlu drum yang signifikan tapi tidak terlalu rumit disini, seperti Lombardo mendapat signature style di “Raining Blood”.”
“Bagaimana kalau sesudah reff, masuk ketukan uga-uga-nya Lombardo?”
“Lo bisa memasukkan solo gitar chaotic dan singkat disini? Sejenis Jeff Hanneman? Trrrr trrrrr svviiiiiirrt trrrrr?”
“Yeah.”

Kadang hanya kami sendiri yang mengerti bahasa tersebut. Tanpa menyebutkan part spesifik, tapi kami langsung mengerti. Tentu saja, prosesnya bukan copy paste riff atau part lagu Slayer, tapi yang dikejar biasanya adalah intensitas yang sama. Sensasi yang akhirnya didapatkan setelah mendengarkan lagu, sama seperti sensasi yang didapatkan setelah mendengarkan lagu-lagu dalam album Reign In Blood.

20 tahun mendengarkan Reign In Blood, akhirnya pada tahun 2007 terdengar kabar kalau Slayer akan konser di Max Pavillion, Singapura. 4 bulan sebelumnya saya dan beberapa rekan sudah bersama-sama berjanji akan berangkat bersama menyaksikan mereka. Kami bercanda, ini adalah perjalanan ‘naik haji metal’ kami. They’re gods, and we’re the loyal followers. Tentu saja biayanya tidak murah, jadi saya melelang beberapa barang-barang saya demi menyaksikan Slayer. Seperti garage sale, saya melepas beberapa CD dan t-shirt dan memorabilia musik saya. Saya juga lebih giat mencari side job demi menambah dana.
Hari yang ditunggu tiba, and we’re all pumped up and excited. Kata yang dapat menggambarkan ekspresi kami mungkin hanya, “Yeaarrrgghh!!!”. Slayer akhirnya muncul dan Max Pavillion berantakan sudah. Semua fans heavy metal tahu kalau crowd Slayer adalah yang terbrutal, memar biru atau luka berdarah adalah sebuah lencana kebanggaan. Ditutup dengan lagu-lagu dari album Reign In Blood, lengkaplah hidup saya. Salah satu konser terpenting selama hidup saya. Bahkan sepulang konsernya, kami tidak bisa tidur. Masih tidak percaya kalau kami pada akhirnya bisa menyaksikan Slayer. Penantian 20 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pasca konser Slayer, kami senang bercanda dan ‘menyombongkan’ kepada rekan-rekan metalheads yang tidak menjadikan konser Slayer sebuah prioritas, tidak menyaksikannya, dan akhirnya menyesal sendiri, “We saw fucking Slayer, man. Where were you? You called yourselves metalheads?”. Haha.

Slayer adalah band heavy metal yang membuktikan dan menginspirasikan saya untuk tetap menjadi diri sendiri, no matter what. Di saat band-band metal lainnya mencoba berkompromi atau melemah, Slayer selalu tetap konsisten pada jalurnya. Menginspirasi banyak sub genre heavy metal sesudahnya, lirik yang ekstrim, puitis dan gelap, dan menyalurkan kemarahan dan agresi secara positif. Reign In Blood hingga hari ini, menjadi album heavy metal yang signifikan, dan tidak termakan usia, dari sound dan tentu saja intensitasnya. Saya masih menyimpan baik versi kaset, CD, dan juga vinyl, yang diputar secara berkala. Sebuah masterpiece yang membuatmu selalu muda.

Fucking Slayer.

[versi unedited, assignment dari www.jakartabeat.net]

semarak tengkorak artshow, 31 oct - 7 nov 2008.

Wednesday, 05 November 2008

semaraktengkorak-e-flyer-smaller.jpg
pa305863.JPG
00-semarak-tengkorak-t-shirt.jpg
pb015955.JPG
pb015896.JPG
pa315875.JPG
n593134220_1022835_40611.jpg
n593134220_1022857_31.jpg
n593134220_1022858_293.jpg
n593134220_1022840_53851.jpg

terima kasih yang sudah menyempatkan hadir, dan membeli prints atau merchandise bahkan karya. dan tentunya teman-teman bikinruang, para pekerja seni semarak tengkorak, rock n’ roll tattoo crew, agung dan kompas urbana, boit & tri omuniuum, hengky & gusto sign, trax magz, trax fm, peculiar, leyp, spice, & merchcons.

yang belum sempat hadir, kalau sempat datang saja ke bikinruang, jl.benda raya 89 lt.2, kemang, jakarta selatan.enjoy!

pics courtesy of 13 & eric-deathrockstar.com

mono @ jakarta rock parade 07.13.2008.

Monday, 14 July 2008

mono @ jrp

Mindblowing & breathtaking experience, mungkin adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan performance Mono, band post rock Jepang di Jakarta Rock Para[h]de [JRP] tanggal 13 Juli kemarin. Rasanya tidak berlebihan kalau saya bilang show Mono melebihi kepuasan saya ketika saya menonton konser Bjork, terlebih lagi sebelum mereka mulai mereka menge-set panggung sendiri, tipikal band independen luar. Beberapa orang di crowd tidak sabar dan berteriak-teriak, maklum biasa dimanjakan oleh attitude ‘tahu beres’. They won’t survive in small concerts abroad.

Read the rest of this entry »

the exhibition plan.

Tuesday, 03 June 2008

kickass-choppers-the-devil-cropped.jpg

Seorang teman lama, Eunice, mengontak saya dan mengajak untuk berkarya bersama. Entah itu karya masing-masing, atau nantinya ada karya kolaborasi. Eunice sendiri untuk scene musik independen dan scene urban art sudah tidak asing lagi, dia sangat sering membuat event-event musik dan urban art, salah satunya yang baru selesai diadakan adalah Djarum Black Urban Art Festival.

Saya sendiri belum tahu bentuk karya apa yang akan dipamerkan, biasanya saya menggambar ilustrasi atau karya grafis untuk t-shirt dan cover album. Mungkin saya akan mencoba ke lukisan atau silkscreen printing. Karya-karya ini rencananya akan dibuat pameran di lantai 3 toko Deadboy, sebuah toko dan perusahaan skate lokal di Bulungan Blok M, Jakarta. Dan mungkin juga akan dibuat di tempat lain, bahkan di kota lain. Mungkin sekitar akhir Juli atau pertengahan Agustus. Tema pameran masih dibicarakan, tapi ada ide dari sebuah lagu Motorhead, dimana saya dan Eunice sangat suka dengan Motorhead, ”Ace Of Spades”. Tapi ini masih belum fix. I think this is going to be interesting. Jadi sepertinya 6 minggu ini saya harus menggambar dan menggambar lagi. Haha.   I’ll keep you posted.     

new wave of old school black fucking metal.

Tuesday, 03 June 2008

Black metal era sekarang semakin menarik. Saya sedang banyak mendengarkan band-band black metal baru yang mampu mengembangkan genre tersebut. Dan kebanyakan dari band tersebut serunya bukan berasal dari negara-negara Skandinavia. Well, kecuali Watain, mereka dari Swedia,dan Bergraven dari Norwegia. Ada beberapa band black metal tersebut yang tetap konsisten dengan old school black metal mereka, tanpa gimmick [seperti corpsepaint, anyone?], namun tetap pure evil. Beberapa berhasil memasukkan unsur doom metal, drone, blues, ke dalam formula old school black metal. Jadinya, menambah atmosfer yang spooky. Deathspell Omega, Leviathan, Xasthur, Glorior Belli, Ondskapt, Unearthly Trance, Thralldom, Nattefrost, dan lainnya. Banyak sekali. Dibawah ini ada beberapa yang menjadi highlights-nya [tentu saja untuk tahun 2008], check out these releases:

Watain Sworn To The Dark
review-watain-sworn.jpg

Saya tidak ingat ini album ke empat atau ke lima, tapi Sworn To The Dark membuktikan kalau racikan black metal yang klasik dan juga kental black thrash-nya membuat Sworn To The Dark menjadi album metal yang tidak hanya heavy tapi juga intens. Sepertinya, apa yang seharusnya ada di band-band black metal era tahun ‘90an ada di aransemen-aransemen lagu Watain. Untuk mereka yang belum pernah mendengarkan Watain, album ini juga bisa menjadi titik mulai yang baik.

Leviathan Massive Conspiracy Against All Life
review-leviathan-massive.jpg

Otak kreatif di belakang Leviathan, Wrest, tidak pernah lelah berkarya. Mungkin justru sebagai one man band dia menjadi lebih bebas untuk berkarya, sehingga dalam setahun bisa ada 3 rilisan yang dia keluarkan. Massive Conspiracy Against All Life juga semakin mengokohkan Leviathan sebagai band USBM yang perlu diikuti terus.

Bergraven Dodvisioner
review-bergraven.jpg

Another one man black metal band. Dodvisioner [yang dalam bahasa Swedia adalah ‘visions of death'], berisikan komposisi-komposisi lagu dengan tempo yang berada dalam batas black metal dan juga doom metal, plus sound gitar jernih dan jelas yang di-set membangun atmosfer keseluruhan sebagaimana resep yang cukup sering digunakan oleh para band metal kontemporer. Siapapun yang menyukai Xasthur, Nortt, atau mungkin beberapa band black metal asal US akan menyukai Dodvisioner. Kalian yang berasal dari generasi heavy metal old school dan progresif seperti Anacrusis, juga akan menyukai Dodvisioner.

Villains Drenched In The Poisons
review-villains.jpg

Sebenarnya mereka lebih ke arah black thrash dibanding black metal, musik Villains seperti generasi baru dari mereka yang dibesarkan oleh Hellhammer, Sarcofago, etc. Drenched In The Poisons direkam di sebuah record store heavy metal di Brooklyn, New York. Walaupun merupakan band dari kota besar, feel musik mereka selayaknya musik black thrash yang sangat primal, dan brutal.

Deathspell Omega Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum
Deathspell Omega

Somehow, tidak terlalu berlebihan kalau Deathspell Omega saya sebut sebagai The Dillinger Escape Plan-nya black metal. No shit. Mungkin bukan gaya teknikalnya, walau juga ada, tapi lebih kepada progresifitasnya yang memang kemana-mana. Bayangkan sound primitif ala Burzum atau Darkthrone namun tetap musikalitasnya lebih progresif dengan sound yang tidak shitty tapi tetap dingin. Album kedua dari trilogi ini semakin menampakan progresifitas dan eksperimentasi yang lebih merambah luas. Struktur lagu, dinamisasi, ritem dan progresi chord yang dipilih dan diaransemen band tampak berani berbeda dan ‘tidak sesuai jalur’, namun tidak berarti kemudian tidak dikenal sebagai sound yang non-black metal. Sebaliknya, justru inilah format black metal masa depan, atau mungkin lebih sederhananya, Fas-Ite, Maledicti, In Ignem Aeternum adalah sebuah album black metal yang seharusnya diciptakan sekarang.

Sejauh ini 5 band ini masih menjadi top 5 saya, tapi saya yakin nanti ke depan akan bermunculan band-band black metal lainnya yang top notch. I think heavy metal is very healthy nowadays. :D

halo.

Tuesday, 03 June 2008

Hallo semuanya, 13 disini. Saya akan mencoba menulis sesuatu lewat blog ini, bisa sesuatu yang penting tapi sepertinya lebih banyak hal tidak penting. Haha. Sepertinya juga akan lebih banyak segala sesuatu tentang musik yang saya sukai dan segalanya yang terkait. Cheers, and keep listening to heavy metal and punk rock. Ha!

Advertisement
 
Advertisement
Advertisement
Advertisement
BLOGROLL
Latest Blogroll Post
Whatnot TV
WHATNOT FM
Have A Nice Day
HAVEANICEDAY2008-0015.jpg
 
 
 
Advertisement